27.8.25

SABHAWANA : #3. GELADI MEDAN I : CIAMPEA


Catatan Batin Geladi Medan I – Ciampea, 1984

 

Ada masa dalam hidupku yang selalu kembali, meski puluhan tahun sudah berlalu. Masa ketika aku masih remaja, dengan ransel seadanya, sepatu pinjaman, dan semangat yang belum tahu arah.  Masa ketika aku berdiri di halaman SMA 3 Jakarta, pada satu sore bulan September 1984, bersama teman-teman yang kini entah dimana, memulai perjalanan yang ternyata tak sekadar perjalanan biasa.

 

Aku masih bisa mendengar riuh suara itu. Terngiang jelas di dalam hati, suara ransel diseret, tawa canggung Caang, panggilan tegas Senior, hingga teriakan “SABHAWANA!” yang menggelegar menembus langit senja.  Itu bukan sekadar teriakan, tapi semacam janji yang kami ikrarkan: janji untuk ditempa, diuji, dan tumbuh bersama.

 

Sore itu lapangan basket penuh dengan ransel yang bentuknya aneh-aneh. Ada yang terlalu besar, ada yang gembung ke samping, ada juga yang tampak kosong karena pemiliknya hanya membawa sedikit bawaan. Aku sendiri merasa kikuk, membawa ransel biasa yang tidak tahu harus diisi apa. Ketika senior datang dengan Jaket Merah dan Syal Merah, rasanya kami sedang menyaksikan “sesuatu” masuk ke arena. Mereka berjalan santai, rapi, dengan bawaan ringkas. Dalam hati aku membatin: Kapan ya aku bisa seperti mereka?”

 

Menjelang Magrib, kegiatan dihentikan. Kami bergegas menuju Masjid Sekolah untuk sholat berjamaah. Usai itu, suasana berubah hening dan khidmat saat kami berdiri melingkar, menggelar Upacara khas Sabhawana. Teriakan “SABHAWANA!” dari pengurus disambut kompak oleh kami semua, menggelegar memecah gelap malam SMA 3 Jakarta. Energi itu yang kemudian kami bawa naik ke atas truk, berdesakan antara Saang, senior, Pengurus, dan Alumni, tanpa jarak, tanpa sekat - kebersamaan yang tak terlupakan.

 

Malam itu, di atas truk terbuka, aku belajar arti kebersamaan.  Dingin menusuk, jalan berdebu, tubuh berdesakan - tapi hangat terasa, karena kami saling menopang.  Tak ada lagi siapa Junior, siapa Senior. Yang ada hanyalah sekumpulan anak muda yang sedang melangkah menuju sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

 

Perjalanan menuju Ciampea memakan waktu panjang. Truk terbuka membuat angin malam menyapu wajah, dingin tapi penuh cerita. Jalan raya Bogor yang padat terasa tak ada ujungnya. Ada yang bercanda, bernyanyi, ada yang tertidur sambil bersandar di ransel, sementara yang lain hanya memandangi lampu jalanan yang berlarian mundur.

 

Sekitar pukul 11 malam, kami tiba. Pengecekan regu dilakukan, lalu perjalanan malam dimulai. Perjalanan Panjang dengan ransel berat  dan hujan rintik adalah ujian pertama. Lelah, kantuk, dan rasa ingin berhenti begitu nyata.  Namun langkah kecil itu terus maju, ditemani suara nyanyian parau.  Aku sadar, sering kali dalam hidup kita ingin stop – berhenti – menyerah, tapi justru pada saat itulah kekuatan dibentuk : setapak demi setapak – mesti dalam hati masih menyisakan keraguan .

 

Menjelang dini hari, tibalah kami di Base Camp latihan Mountaineering. Meski badan terasa penat, kami masih harus mendirikan bivak. Teori yang kami dapat di kelas ternyata jauh berbeda dengan praktik di lapangan. Karena kantuk, banyak bivak berdiri asal-asalan. Begitu selesai, kami rebah, membuka sepatu basah, menjadikan ransel bantal, lalu terlelap. Suara hutan perlahan diganti oleh dengkuran para Caang yang kelelahan.  Pelan tapi pasti seiring mata yang tak tahan menahan kantuk dan Lelah kesadaran tentang arti kenyamanan timbul. Kenyamanan tidak selalu datang dari kasur empuk atau selimut hangat, tapi dari rasa syukur yang sederhana - rasa lega setelah berjuang menyelesaikan satu etape dalam suatu perjalanan.

 

Pagi buta, Senior membangunkan kami. Udara dingin menusuk, tapi tidak ada alasan untuk menolak. Sholat subuh berjamaah dilanjut senam pagi. Air wudhu dari sungai yang sedingin es seketika mengusir kantuk, menumbuhkan semangat baru.  Seiring cahaya Mentari mulai menembus kabut tipis di pinggiran sungai, asap tipis tak mau kalah membumbung ke udara dari kompor kecil. Momen ini yang selalu membuatku tersenyum. Geliat kegiatan pagi, asap dari kompor tabung kecil, dan suara teman-teman yang mencoba memasak. Ada yang sibuk menghangatkan badan, ada yang mengaduk nasi di misting sambil menggerutu, ada juga yang panik karena sardennya gosong.

 

Aku sendiri masih ingat rasa susu kental manis yang kucampur dengan air panas - rasanya seperti minuman termahal di dunia. Nikmat sekali, apalagi diminum di udara dingin bersama teman-teman yang sama-sama kedinginan. Yang masakannya gagal, tak ada masalah, tinggal nimbrung ke kelompok lain. Semua berbagi, semua tertawa. Saat itu aku benar-benar merasa: “Beginilah keluarga.”

 

Usai sarapan pagi, kami bersiap dengan kegiatan yang sesungguhnya, yaitu Latihan Mountaineering. Penyeberangan basah di sungai menjadi tantangan pertama. Air deras membuat tali sulit kencang. Kami harus menyeberang satu per satu, merasakan derasnya arus, menahan tubuh agar tidak hanyut. Lalu tibalah saat ujian nyali: menuruni tebing dengan tali karmantel. Ketika tiba giliran turun tebing, aku benar-benar gemetar. Dari bawah tebing, terlihat orang-orang kecil seperti semut. Saat Senior memasangkan tali ke pinggangku, aku berusaha terlihat tenang, padahal jantung berdegup kencang.

Langkah pertama ke belakang itu rasanya seperti melangkah ke jurang. Tapi begitu tubuh menempel di tebing dan mulai turun perlahan, rasa takut itu pelan-pelan berubah jadi percaya diri. Walau demikian ketakutan itu tidak benar-benar lenyap, tapi aku belajar berdamai dengannya. Sejak hari itu aku tahu: keberanian bukan ketiadaan rasa takut, melainkan keberanian untuk tetap melangkah meski takut ada di depan mata.

 

Pagi bergulir dengan cepat, siang datang dan tak terasa kegiatan turun tebing berakhir dengan lengkapnya kami semua sudah merasakan tantangan yang sebenarnya dari tebing dan ketinggian, dari bagaimana berdamai dengan rasa takut, dari bagaimana percaya dengan alat peralatan yang kami pakai dan bertambahnya pengalaman kami tentang alam dan kehidupan. 

 

Seperti biasa, sebelum semua kegiatan berakhir, kami melaksanakan evaluasi dengan upacara melingkar.  Dari hasil evaluasi, kami mendapatkan hukuman.  Semua push-up di tanah becek. Tangan penuh lumpur, seragam kotor, tapi wajah-wajah tetap tersenyum. Rasanya aneh, dihukum tapi bahagia. Mungkin karena kami tahu, itu bukan sekadar hukuman - itu cara kami ditempa. Aku jadi paham, kadang kebersamaan dalam susah payah justru lebih indah daripada kebersamaan dalam senang.

 

Hukuman push-up di tanah becek menjadi penutup yang justru manis. Kami semua jatuh bangun bersama, menertawakan kelelahan bersama. Disiplin ternyata bukan cambuk yang menyakitkan, melainkan cermin kasih sayang yang keras. Itu cara alam, melalui tangan para senior - mengajarkan kami untuk menjadi lebih siap menghadapi dunia.

 

Sorenya, kami kembali ke truk. Tubuh lelah, kaki lecet, tapi hati penuh semangat. Sepanjang perjalanan pulang, ada yang tertidur pulas, ada yang masih bercanda, ada juga yang diam sambil menatap langit. Aku sendiri hanya bisa tersenyum dalam hati, merasa bangga sudah melewati semua ini.


Dan ketika menjelang malam kami kembali ke SMA 3 Jakarta, aku berdiri sejenak menatap halaman gelap itu. Ada sesuatu yang berbeda di dalam diriku. Aku bukan lagi anak yang sama seperti sebelum berangkat. Kami berpisah satu per satu, pulang ke rumah masing-masing. Aku pulang dengan tubuh yang lelah, kaki yang lecet, tapi jiwa yang tumbuh. Ada satu moment yang kuingat, sesaat sebelum meninggalkan halaman Sekolah, aku menoleh sebentar ke gedung sekolah yang gelap, dan berkata dalam hati: “Ini baru permulaan.”

 

Kini, setelah waktu berjalan begitu jauh, aku mengerti makna semua itu. Geladi Medan I bukanlah sekadar kegiatan outdoor. Ia adalah perjalanan batin. Ia mengajariku arti kesabaran, kebersamaan, keberanian, disiplin, dan rasa syukur. Ia membentuk sebagian dari siapa aku hari ini.

 

Dan setiap kali aku membuka foto lama, atau menyebut nama Sabhawana, suara itu kembali terdengar di telingaku: teriakan lantang di halaman SMA 3 Jakarta, nyanyian sumbang di tengah malam, tawa di sekitar api dan bisikan hati yang tak pernah pudar.

“Inilah bagian dari dirimu. Inilah kenangan yang akan selalu hidup, meski waktu terus berjalan.”

 

SABHAWANA.

9.8.25

SABHAWANA : #2. GELADI MEDAN 1


#2 : GELADI MEDAN 1 : Mountaineering – teori di kelas

 

Aku masih ingat dengan jelas, awal tahun pertama di SMA 3 Jakarta. SMA Teladan, saat itu aku adalah seorang siswa kelas 1 yang masih bingung membedakan antara kantin dan koperasi, antara guru fisika dan guru kimia. Namun satu hal pasti - aku langsung jatuh hati pada satu hal sejak awal: SABHAWANA, klub pecinta alam dengan JAKET MERAH kebanggaannya.

 

Bergabung dengan Sabhawana bukan perkara mudah. Sebagai anak baru, aku harus melalui serangkaian pelatihan dasar selama hampir setahun. Kami disebut Caang - singkatan dari Calon Anggota. Jumlah kami puluhan, mungkin lebih dari lima puluh orang. Kebanyakan anak kelas 1, tapi ada juga beberapa yang dari kelas 2, mungkin yang baru merasa siap setelah melihat kerasnya pembinaan Sabhawana.

 

Minggu pagi, yang seharusnya hari libur, dinikmati dengan santai dan bangun lebih siang, tetapi tidak begitu bagiku. Ketika sebagian orang lain  masih lelap, aku sudah mandi dan bersiap ke sekolah. Ya.. harus ke Sekolah untuk mengikuti kegiatan Sabhawana. Aku tinggal di daerah Cilandak – Jakarta Selatan dan harus naik Kopaja P19 jurusan Ragunan Belakang - Tanah Abang. Bus itu... ah, walaupun hari minggu, selalu penuh sesak, pengap, dan bising. Tapi justru di situlah terasa semangatnya. Dengan ongkos pelajar atau kupon khusus yang dibeli di Terminal Blok M, perjalanan pagi ke Setiabudi Jakarta Selatan menjadi bagian dari kisah panjang ini.

 

Setibanya di sekolah, kami - Caang, Pengurus, dan Senior yang lain - berkumpul di lapangan basket. Kami membentuk lingkaran, tangan bersilang di pundak teman di samping. Salah satu senior akan memulai dengan meneriakkan, “SABHAWANA!” dan kami akan membalas, serempak, lantang, menggema, “SABHAWANA!”.
Itu bukan sekadar seruan. Itu seperti sumpah diam-diam dalam hati kami.
Sumpah bahwa kami siap belajar, siap lelah, siap kuat.

 

Kegiatan teori mountaineering diadakan setiap hari Minggu. Materinya diberikan oleh kakak-kakak kelas - senior Sabhawana. Kami belajar dasar-dasar tali-temali, mendirikan bivak, mengenal alat-alat mountaineering seperti karabiner, webbing, sarung tangan, tali karmantel, piton, eight desender, harness, dll. Di masa itu, harness masih barang mewah. Sebagai gantinya, kami membuat sendiri menggunakan webbing dan ikatan simpul yang kami pelajari berulang-ulang di kelas. Karabiner pun bentuknya masih oval sederhana, dan harganya lumayan mahal waktu itu.

 

Sarung tangan? Bukan seperti yang dijual murah di toko daring zaman sekarang. Kami memakai sarung tangan kulit tebal, yang bekas pun jadi, dan bentuknya hampir persis sama dengan yang dipakai pekerja bengkel atau tukang las. Tapi tidak ada keluhan. Kami bangga memakainya, karena itu lambang keseriusan kami.

 

Setelah beberapa minggu belajar teori, tibalah hari kami mempraktekannya di lapangan, di lingkungan sekitar SMA 3 Jakarta. Kegiatan ini adalah praktek lapangan pertama kami – untuk mengetahui sejauh mana kami menguasai semua yang telah kami pelajari di ruang kelas. Untuk praktek turun tebing, kami memanfaatkan Tower SMA.

 

Ya Tower itu bentuknya seperti Menara, letaknya di belakang sekolah, dekat area kelas IPS. SMA 3 waktu itu terbagi jadi tiga jurusan: Fisika dan Kimia yang ada di gedung utama tiga lantai, dan IPS yang menempati bangunan dua lantai di sisi lain. Di situlah kami latihan rapelling, turun tebing dengan tali. Tapi waktu itu, belum ada tali karmantel untuk latihan rutin. Hanya tali nilon putih yang seratnya kadang terasa kasar di kulit. Tali karmantel disimpan untuk digunakan di medan sebenarnya agar lebih awet.

 

Setiap sore, dua kali seminggu, kami ikut pembinaan fisik. Setelah pulang sekolah, kami ganti baju, dan mulai berlari keliling lapangan atau mengitari ruas jalan di sekitar sekolah. Setelah itu, push-up, sit-up, penguatan kaki dan lengan. Latihan fisik ini berat, tapi dilakukan bersama-sama, jadi tetap terasa menyenangkan. Kadang kami tertawa saat ada yang kehabisan napas duluan, atau saat wajah merah padam tapi tetap berusaha.


Akhir setiap kegiatan teori maupun praktek, kami selalu kembali ke lapangan basket, membentuk lingkaran, mengadakan upacara penutupan. Kadang senior meneriakkan, “Tambahan!” dan menyampaikan peringatan atau nasihat. Jika sudah tak ada yang bicara, Senior berseru, “Pas!” Dan jika ada yang melanggar aturan kecil - datang terlambat, tidak bawa peralatan, atau lupa istilah - hukuman ringan seperti push-up atau sit up 20 kali sudah menanti. Tapi hebatnya, senior juga ikut push-up bersama. Inilah yang membangun rasa hormat dan kekeluargaan. Tidak ada yang dihukum sendirian. Semua dilalui bersama.

 

Geladi Medan I menjadi titik awal kami benar-benar menyentuh dunia luar. Membawa ransel besar, memakai Sepatu bot turun ke alam dengan segala keterbatasan tapi dengan semangat yang membara. Kami belajar memasang bivak, mengikat simpul-simpul yang dulu hanya ada di papan tulis, dan yang paling mendebarkan: rapelling dari tebing sungguhan, bukan sekadar menara sekolah.

 

Di sinilah kami jatuh cinta. Pada alam. Pada persahabatan. Pada kelelahan yang mendewasakan. Di sinilah Sabhawana bukan lagi sekadar nama klub, tapi menjadi rumah kedua. Tempat kami tumbuh, belajar, dan saling mengenal bukan dari nama, tapi dari semangat dan keringat yang kami bagi bersama.

 

Di antara semua pengalaman selama masa SMA-ku, tidak ada yang sebanding dengan apa yang kudapatkan dari Sabhawana. Lebih dari sekadar klub pecinta alam, Sabhawana adalah sekolah kehidupan. Di sanalah aku - dan kami semua - belajar hal-hal yang tak diajarkan dalam buku pelajaran. Tentang tanggung jawab, kedisiplinan, rasa hormat, kebersamaan, dan kekeluargaan.

 

Sebagai Caang, posisi kami memang paling bawah dalam hirarki Sabhawana. Ada 2 pasal mendasar dalam Sabhawana.  Pasal 1, semua Senior pasti benar dan Pasal 2, apabila ada senior yang salah, tinjau kembali Pasal 1.  Unik dan membingungkan, tapi ya itulah jiwa dan tradisi Sabhawana. Tapi sekali lagi itu bukan berarti kami dianggap rendah. Sebaliknya, justru dalam proses itulah kami dilatih menjadi individu yang tangguh dan mandiri. Semua ada prosesnya, semua ada tahapannya. Kami tidak dimanjakan, tapi juga tidak pernah dibiarkan sendiri.

 

Dari kegiatan mingguan, kami belajar bahwa setiap orang harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Membawa perlengkapan pribadi, datang tepat waktu, menjaga kerapihan atribut, hingga memperhatikan kelengkapan kelompok saat berkegiatan. Jika satu lupa atau lalai, seluruh kelompok ikut menerima konsekuensinya. Bukan untuk menghukum, tapi untuk mengingatkan bahwa kami semua saling terikat. Satu orang salah, yang lain ikut memperbaiki. Bukan saling menyalahkan, tapi saling menopang.

 

Dalam setiap sesi teori, kami tidak hanya menyimak materi mountaineering. Kami juga belajar cara mendengarkan, menghargai orang yang bicara, dan bagaimana menyampaikan pendapat tanpa menjatuhkan. Senior adalah guru sekaligus saudara, mereka tegas, tapi penuh kasih. Mereka menyebut kami "Caang" bukan dengan nada merendahkan, tapi sebagai panggilan sayang yang membentuk identitas baru: bahwa kami adalah calon bagian dari mereka.

 

Dan itu berlaku dua arah. Kami menghormati mereka bukan karena mereka lebih tua, tapi karena mereka sudah melewati jalan yang sama. Mereka mengajarkan bahwa menjadi senior bukan berarti boleh semena-mena. Mereka memberi contoh, turun tangan saat kami lelah, ikut push-up saat kami dihukum, membantu mengikat bivak kami yang masih berantakan tanpa mencela.

 

Dalam tradisi Sabhawana, senior dihormati, yunior dihargai. Ini bukan sekadar slogan, tapi diterapkan setiap minggu. Nilai itu tertanam tanpa perlu dikhotbahkan. Ketika kami melakukan di alam bebas atau geladi medan, senior selalu jadi yang paling sibuk, paling akhir, dan paling pertama bangun. Mereka yang paling dulu mengecek kondisi kami, yang memastikan makan kami siap, dan mampu melaksanakan kegiatan.

 

Dari sinilah muncul rasa yang lebih besar: jiwa korsa, rasa memiliki, dan kekeluargaan yang tinggi. Kami merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Kami bukan lagi hanya siswa SMA, tapi keluarga besar Sabhawana.

 

Kebersamaan itu melebur batas antar angkatan. Saat ini pun, bertahun-tahun setelah lulus, ikatan itu tidak pernah luntur. Kami masih menyapa satu sama lain dengan semangat yang sama. Masih menertawakan cerita-cerita lama: tentang siapa yang lecet, siapa yang gagap waktu laporan, siapa yang lupa bawa peralatan, siapa yang ngorok paling keras atau bahkan siapa yang kesasar dan ketinggalan paling belakang. Dan setiap kali bertemu, walau kami sudah menjadi orang tua, aparat pemerintah, atau pegawai swasta - kami tetap menyebut satu sama lain: “Kakak Halimun, ya… Halimun adalah nama Angkatan 7 – Angkatan kami.

 

Kenangan itu tidak hanya tertinggal, tapi menjadi pondasi. Kami yang dulu belajar mengikat simpul dan menggulung tali, kini tahu bagaimana menyelesaikan masalah hidup dengan tenang. Kami yang dulu rela berkeringat demi latihan fisik sore hari, kini tak mudah menyerah menghadapi tantangan karier. Kami yang dulu diminta datang pagi-pagi untuk apel dan berpelukan dalam lingkaran, kini tahu pentingnya merangkul, bukan menjatuhkan.

 

Sabhawana bukan sekadar klub. Sabhawana adalah tempat kami ditempa menjadi manusia. Dan aku bersyukur - sungguh bersyukur - pernah menjadi bagian dari keluarga ini. Karena Sabhawana-lah, aku menjadi pribadi yang berani melangkah ke dunia, penuh rasa hormat, dan tidak pernah berjalan sendiri.

 

Sekarang, puluhan tahun telah berlalu. Tapi kenangan itu masih hangat. Masih bisa kurasakan aroma tanah pagi hari, suara tali yang bergesek di karabiner, dan teriakan senior memanggil,
Siapa Kita?” Dan kami, akan menjawab dengan keras dan bangga SABHAWANA


29.7.25

SABHAWANA ; Penggalan Catatan dan Kenangan #1 CIAMPEA

 #1 : CIAMPEA : Kenangan Akhir Pekan dan Cepek - Cepek


"Langit Ciampea dan Kenangan yang Tak Pernah Tua"

Ada satu masa dalam hidupku yang selalu terasa hangat untuk dikenang - masa-masa SMA, semasa di SMA 3 Teladan Jakarta, masa ketika masih belia, dimana semangat muda dan rasa ingin tahu tak pernah habis. Saat itu aku adalah bagian dari Sabhawana, klub Pecinta Alam SMA 3 Jakarta. Nama itu, Sabhawana, seperti mantra magis yang langsung memanggil kembali kenangan-kenangan indah, petualangan tak kenal lelah, dan persahabatan yang tulus tanpa syarat.

 

Sabtu sore selalu punya aroma petualangan sendiri buatku. Di masa SMA dulu, saat seragam putih abu-abu masih melekat di badan dan pikiran kami belum dipenuhi soal-soal hidup yang rumit, yang ada adalah jalan-jalan ke alam bebas, pola pikir ini mungkin sedikit berbeda dengan anak-anak lain sesama SMA yang lebih memilih akhir pekan dengan nongkrong di Blok M atau nonton film.  Ya… aku lebih memilih kegiatan di alam bebas.

 

Hampir setiap akhir pekan, aku dan teman Sabhawana yang lain punya “ritual” yang tak tertulis tapi terpatri kuat di hati:  latihan panjat tebing ke Ciampea, Bogor. Tempat itu bukan sekadar tebing batu kapur yang curam, bukan hanya medan latihan. Ciampea adalah panggung tempat kami bertumbuh, tertawa, jatuh, bangkit, dan saling mengenal satu sama lain lebih dari sekedar teman sekolah.  Ciampea adalah tebing  cadas kapur yang menjadi saksi bisu dari setiap goresan luka, tawa, dan semangat muda yang membara dalam dada kami.

 

Perjalanan kami dimulai dari Stasiun KA Pasar Minggu. Dengan kereta ekonomi yang sering tak menyisakan ruang untuk bernapas, kereta yang panas dan pengap. Kami berdiri berdempetan sambil membawa ransel  yang lebih sering penuh logistik seadanya dan tali karmantel, carabiner dan sarung tangan untuk latihan panjat tebing. Tapi kami tak pernah mengeluh, tawa dan cerita silih berganti selama perjalanan, seakan mengusir letih dan bau peluh.

 

Sesampainya di Stasiun KA Bogor, kami menyambung perjalanan dengan angkot menuju Ciampea. Masih belum selesai - setelah turun dari angkot, kami masih harus berjalan kaki sejauh kurang lebih lima kilometer. Perjalanan yang lumayan panjang melintasi jalan setapak yang membelah perkebunan karet. Selama perjalanan sangat jarang kami bertemu atau berpapasan dengan orang lain, hanya sesekali kami bertemu dengan penduduk setempat yang sedang menyadap pohon karet. Yang bisa menghibur kami selama perjalanan adalah candaan atau sesekali tertawa melihat salah satu dari kami terpeleset atau membawa beban paling berat.

 

Tapi ada yang menarik dari kesemua cerita itu, yaitu bagaimana kami membiayai kegiatan akhir pekan tersebut.  Cerita yang ikonik dari semua ini adalah ritual "kenclengan cepek-cepek". Sebelum hari H, biasanya aku atau teman-teman keliling lapangan basket sekolah, menghampiri teman-teman yang sedang istirahat. “Bro, cepek-cepek dong buat ongkos!” kataku dengan senyum cengengesan. Ajaibnya, mereka selalu memberi. Seratus perak dari satu, dua, tiga orang… lama-lama bisa terkumpul dua ribu sampai tiga ribu rupiah atau bahkan lebih. Itu cukup untuk ongkos pulang pergi dan makan seadanya di warung. Entah bagaimana, dari hal kecil itu kami belajar arti gotong royong, solidaritas, dan tidak gengsi meminta bantuan selama dilakukan dengan niat baik dan niat jalan.

 

Latihan di Ciampea bukan sekadar olahraga, itu latihan hidup. Kami berangkat sabtu sore setelah pulang sekolah dan baru kembali minggu sore. Kami harus menginap, karena latihan panjat tebing baru bisa dilaksanakan esok harinya, dan karena kami sampai di Ciampea kadang sudah terlalu sore bahkan tak jarang sudah gelap. Tak ada penginapan layak di sana. Kalau cuaca tak bersahabat, kami tidur di warung penduduk, Warung Aki, satu-satunya warung yang ada di dekat tempat latihan. Tapi lebih sering kami tidur beralaskan ponco berbantalkan ransel di bawah langit malam, tanpa atap. Langit Ciampea saat itu… ah, begitu jernih. Bintang-bintang tampak begitu dekat, seperti bisa kami petik dengan tangan.

 

Tidur di bawah langit berbintang dengan suara jangkrik, dinginnya angin gunung, dan kelelahan yang menyenangkan - itulah versi bahagia kami. Tidak ada kasur, tidak ada bantal. Tapi kami tidur dengan damai.

 

Untuk makan, kami mengandalkan warung di kaki tebing. Menunya seringkali hanya nasi hangat, tahu dan tempe goreng, kadang telur dadar serta sayur bening. Tapi, di alam bebas, segala rasa jadi lebih nikmat, rasa makanan itu tak kalah dari masakan restoran. Dan kalau ingin mandi, kami turun ke Kali Ciampea. Airnya jernih, dingin dan segar. Bahkan aku masih ingat ada bagian yang merupakan sumber air panas alami. Kami sering berendam di sana sambil saling menyiram dengan penuh tawa.

 

Canda dan tawa adalah bagian tak terpisahkan dari kami. Bahkan ejekan pun terasa hangat, tidak pernah menyakitkan. Candaan khas Sabhawana itu keras tapi tidak tajam. Kami sering bilang, “No heart feeling, bro.” Dan memang benar. Justru dari candaan itulah kami belajar menertawakan diri sendiri dan memperkuat persahabatan kami. Tidak ada batas, tidak ada status. Mau anak orang kaya, anak pejabat, atau anak pasar, semua sama saat berhadapan dengan alam bebas, tali karmantel dan tebing setinggi belasan meter.

 

Ketika sinar matahari minggu sore menerpa Stasiun KA Pasar Minggu kami tiba kembali di Jakarta dengan badan lelah, tapi hati penuh. Penuh cerita, penuh tawa, penuh kenangan. Sekarang, ketika usia sudah tidak lagi muda dan tubuh tidak lagi sekuat dulu, kenangan itu tetap terasa hangat di hati. Kadang ketika kami bertemu Kembali - entah di reuni, pernikahan anak teman, atau sekadar janjian ketemuan - cerita itu kembali mengalir. Tentang nyangkut atau jatuh dari tebing, tentang senter yang kehabisan baterai di tengah malam, tentang siapa yang ngorok paling keras saat tidur dan banyak hal lainnya, dan tentu saja tentang sumbangan cepek-cepek yang legendaris yang sekarang menjadi kenangan indah bersama.

 

Dan ketika kami tertawa bersama, rasanya seperti waktu berhenti. Seakan kami kembali ke usia 17, membawa ransel besar, berjalan menembus gelap menuju kaki tebing, dengan semangat yang tak pernah padam.

 

Waktu boleh berlalu. Rambut mulai beruban, badan mulai pegal-pegal kalau naik bukit. Tapi kenangan itu - kenangan kami - tetap abadi.

 

DAMN, I LOVE THIS GENK.

SABHAWANA.

S 78514 H

3.5.23

PEMBANGUNAN WILAYAH TERTIB REFORMASI BIROKRASI (WTRB) (02)

 

Berkaitan dengan pelaksanaan Zona Integritas yang dengan cara berbeda, maka ada beberapa pedoman dalam pelaksanaan pembangunan WTRB, sebagai berikut:

Perbedaan pembangunan Zona Integritas dengan WTRB adalah: 1) dalam pembangunan Zona Integritas tidak ada kategorisasi dalam penilaian Satker menuju WBK/WBBM, sedangkan dalam pembangunan WTRB terdapat kategorisasi dimana seluruh Satker di lingkungan TNI digolongkan berdasarkan karakteristik tugas pokok, yaitu Satker Teritorial, Satker Kesehatan, Satker Pendidikan, Satker Balakpus, Satker Balak Kotama dan Satker Tempur/Banpur;  2)  dalam pembangunan Zona Integritas tidak  ada kompetisi di internal TNI AD, sedangkan kategorisasi dalam WTRB bertujuan untuk meningkatkan semangat kompetensi di internal TNI AD dalam satu kategori yang sama sehingga dapat memperbesar peluang Satker dalam memperoleh predikat WBK/WBBM;  3)  lembar kerja evaluasi (LKE) yang merupakan alat untuk menilai pencapaian keberhasilan pelaksanaan pembangunan Zona Integritas masih menggunakan Bahasa umum yang tidak sesuai dengan budaya kerja di lingkungan TNI AD, sedangkan LKE WTRB sudah disusun menyesuaikan dengan istilah Bahasa dan budaya kerja di lingkungan TNI AD;  dan  4)  untuk meningkatkan data dukung dalam menghadapi penilaian Zona Integritas Kemen PANRB dalam hal ini tidak membuat panduan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada pada LKE, sedangkan dalam penilaian WTRB disiapkan modul sebagai panduan dalam mengisi dan melengkapi setiap pertanyaan yang ada pada LKE WTRB.

 

   Satker dalam melaksanakan pembangunan WTRB ditandai dengan melaksanakan pencanangan pembangunan WTRB yang merupakan komitmen Bersama antara Kasatker dan seluruh anggota Satker.  Dalam melaksanakan pembangunan WTRB Satker bisa berpedoman pada pelaksanaan tugas pokok Satker, baik itu fungsi utama maupun fungsi organic militer sehingga setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh Satker dalam rangka pembangunan WTRB harus bisa berdampak terhadap public yang dilayani dan bisa diukur keberhasilannya sehingga tidak ada lagi kegiatan yang dilaksanakan baik itu kegiatan program maupun non program yang tidak memiliki outcome dan tidak dapat diukur keberhasilannya.  Public disini konotasinya tidak hanya masyarakat tetapi disesuaikan dari penerima manfaat setelah Satker melaksanakan tugas pokok.

 

Setelah Satker melaksanakan pembangunan WTRB, minimal 1 (satu) tahun setelah melaksanakan pencanangan WTRB Satker akan dinilai untuk mengukur sampai sejauh mana keberhasilan pembangunan WTRB yang sudah dilaksanakan.  Penilaian WTRB dilaksanakan secara berjenjang dimulai dari penilaian Tim Penilai Internal (TPI) tingkat Kotama, penilaian TPI Satuan Atas baik tingkat Mabes Angkatan maupun Mabes TNI dan terakhir penilaian yang akan dilaksanakan oleh Tim Penilai Nasional (TPN) yang merupakan penentu apakah Satker layak memperoleh predikat WBK/WBBM atau tidak.

 

Satker yang sudah memperoleh predikat WBK diwajibkan menjaga dan meningkatkan kualitas kinerja Satker kemudian akan dilaksanakan pemantauan oleh TPI setiap 2 (dua) tahun sekali untuk menilai apakah Satker tersebut masih layak atau tidak untuk menyandang predikat WBK.  Bagi Satker yang dinilai sudah tidak layak berdasarkan hasil peninjauan TPI maka predikat WBK dapat dicabut.


PEMBANGUNAN WILAYAH TERTIB REFORMASI BIROKRASI (WTRB) (01)

 

    Reformasi Birokrasi merupakan sebuah tuntutan yang harus dilaksanakan oleh seluruh unit kerja di lingkungan pemerintahan baik Kementerian maupun Lembaga Non Kementerian, termasuk di dalamnya TNI, karena hal tersebut merupakan tuntutan zaman dalam rangka mewujudkan keterbukaan dan etos kerja yang dapat dipertanggungjawabkan.  Reformasi Birokrasi diharapkan dapat menciptakan satuan atau unit kerja yang bersih, akuntabel, kapabel, dan dapat memberikan pelayanan public yang prima.  Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, setiap pelaksanaan tugas yang dilaksanakan oleh satuan TNI harus memiliki dampak dan dapat diukur tingkat keberhasilan dari setiap kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka mendukung tugas pokok masing-masing satuan TNI.  Berkaitan hal tersebut, maka pelaksanaan Reformasi Birokrasi sepatutnya dikoordinir oleh organisasi bentukan (ad hoc), dalam hal ini adalah Tim Pelaksana Reformasi Birokrasi dari mulai tingkat pusat sampai dengan tingkat pelaksana pada jajaran Badan Pelaksana ataupun Kotama.

 

Untuk meningkatkan kualitas dan mempercepat pencapaian tujuan dari pelaksanaan Reformasi Birokrasi, maka TNI dan jajarannya melaksanakan Pembangunan Zona Integritas, dimana Pembangunan Zona Integritas merupakan bagian dari pelaksanaan Reformasi Birokrasi atau disebut juga sebagai miniature Reformasi Birokrasi.  Zona Integritas dilaksanakan oleh seluruh satuan setingkat Satuan Kerja dengan melaksanakan pembangunan pada 6 (enam) area perubahan, sedangkan Reformasi Birokrasi yang dilaksanakan oleh tingkat pusat (Kotama dan Balakpus) dilaksanakan dengan pembangunan pada 8 (delapan) area perubahan.  Pada tahun 2023 satuan TNI diharapkan dapat membangun inovasi pembangunan Zona Integritas dimana sebelumnya evaluasi pembangunan Zona Integritas dilaksanakan kegiatan Penilaian Mandiri Pelaksanaan Pembangunan Zona Integritas (PMPZI) dirubah menjadi wilayah Tertib Reformasi Birokrasi (WTRB) dilingkungan TNI.

 

Untuk dapat mencapai tujuan dan sasaran yang diinginkan, maka pelaksanaan Pembangunan Zona Integritas harus bisa selaras dan mendukung keberhasilan tugas pokok Satker.  Maka dalam pelaksanaan pembangunan Zona Integritas Satker harus berpedomanpada ketentuan atau aturan yang berlaku, dalam hal ini adalah Doktrin dan Referensi yang telah disusun.  Satker yang mampu memenuhi Sebagian besar 6 (enam) area perubahan dapat dinyatakan telah berhasil membangun Zona Integritas dan akan memperoleh predikat dari Pemerintah sebagai Satker berpredikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) diberikan kepada Satker yang mengikuti penilaian lanjutan setelah memperoleh predikat WBK dengan indicator yang sama tetapi dengan standar nilai yang lebih tinggi daripada WBK.  Bagi Satker yang telah memperoleh predikat WBK dan WBBM diharapkan bisa menjadi Satker Percontohan (role model) untuk kemudian dapat diikuti oleh Satker lain dan pada akhirnya akan dapat dilaksanakan secara menyeluruh dan  dirasakan manfaatnya oleh berbagai pihak.


Setiap Unit Kerja tentu memiliki kekhasannya sendiri dan tidak bisa begitu saja disamakan dengan satuan atau unit kerja yang lain.  Hal tersebut tentunya sangat dipengaruhi oleh lingkungan kerja, mekanisme kerja, hirarki jabatan, disiplin dan etos kerja serta tradisi yang terbangun dari sekian lama satuan tersebut telah terbentuk.  Hal ini tentu lazim dan harus bisa dimengerti.  Demikian pula dengan pelaksanaan pembangunan Zona Integritas di lingkungan TNI, tentunya juga tidak bisa dilaksanakan dengan tata laksana yang ada, tetapi perlu adanya penyesuaian dengan tetap mematuhi substansi peraturan yang  telah ditentukan oleh Kemen PANRB, yaitu dengan melaksanakan pembangunan Wilayah Tertib Reformasi Birokrasi (WTRB).  Program WTRB merupakan upaya inovasi untuk meningkatkan kualitas Reformasi Birokrasi di lingkungan TNI pada tingkat Satker dan pembangunan WTRB disesuaikan dengan budaya dan nilai-nilai organisasi, sehingga segala bentuk kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka mendukung tugas pokok itu sama dengan membangun WTRB.


30.3.23

ChatGPT


Lagi-lagi ada aplikasi unik yang sedang viral…… ChatGPT

ChatGPT menjadi viral dan menjadi perbincangan banyak orang di platform media sosial seperti Twitter dan TikTok karena kemampuan yang ditunjukkannya.


Pertanyaannya, apa itu ChatGPT ?


ChatGPT adalah chatbot berbasis teknologi artificial intelligence (kecerdasan buatan) yang dapat melakukan interaksi percakapan dengan penggunanya secara canggih.

Kenapa bisa dikatakan canggih alias mumpuni, jawabannya ya karena chatbot-nya ChatGPT dapat memberikan jawaban yang luwes ketika pengguna mengirimkan pertanyaan atau perintah untuk membuat sesuatu dalam bentuk teks. Dan masih ada kelebihan lainnya, yaitu ia juga bisa  melakukan hal lain berbasis teks, seperti menjelaskan cara kerja dari sebuah benda, mendeskripsikan sesuatu, membuat rencana perjalanan, menulis esai, dan banyak hal lainnya, sungguh suatu lompatan teknologi yang tidak terpikirkan beberapa dekade yang lalu.

Dari berbagai sumber, ada sedikit rincian tentang ChatGPT, dimana ChatGPT dikembangkan oleh OpenAI, perusahaan asal Amerika yang berfokus mengembangkan teknologi artificial intelligence.

Chatbot ini dibuat berdasarkan GPT-3.5, sebuah model bahasa alami yang menggunakan proses pembelajaran deep learning.

Dan disamping berbagai kelebihan yang telah disebutkan sebelumnya, ada kelebihan lain yang paling menonjol dan kelebihan ini yang menjadikannya banyak digunakan oleh para pecandu gawai pintar, selain bahasa Inggris, ChatGPT juga telah mendukung bahasa Indonesia. Jadi, pengguna di Indonesia bisa mengajukan pertanyaan atau perintah dalam bahasa Indonesia yang kemudian akan mendapat jawaban dalam bahasa yang sama.

 

ChatGPT sendiri purwarupanya dilansir pada medio November 2022 dan  sudah bisa dicoba oleh publik pada akhir November, dengan berbagai kelebihan dan kemampuannya dalam berpikir dan menghasilkan teks tersebut, maka tidak heran apabila ChatGPT viral di media sosial.

Meskipun banyak orang terkesima dengan kemampuan ChatGPT, namun chatbot ini juga tidaklah sempurna. Pasalnya, ChatGPT masih rentan memunculkan misinformasi dan bias.

Tapi hal itu bisa dimaklumi, mengingat chatbot ini masih dalam tahap uji coba yang tentunya masih membutuhkan banyak masukan dan evaluasi untuk pengembangannya.

 

TAPI, ada yang UNIK dari ChatGPT ternyata ia juga BISA memberikan saran masukan yang lebih BIJAK, lebih FAIR, lebih TIDAK MEMIHAK daripada kalau kita bertanya/minta saran kepada orang lain atau bahkan seorang SAHABAT yang kadang mereka bermain dengan PERASAAN sehingga memberikan masukan yang mengENAKkanmengIYAkan (seperti dengan kemauan yang ada di HATI KECIL kita).

 

Sebagai contoh, ada pertanyaan yang dilontarkan ke ChatGPT tentang selingkuh….
























Menarik bukan ChatGPT

 

Sebelum ada menggunakan ChatGPT, seperti layaknya temuan-temuan yang lain didunia ini baik yang nyata maupun yang eksis di dunia maya, semuanya tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan, tinggal bagaimana kita bijak  menyikapi dan menggunakannya.











24.8.22

MENGENAL BELA NEGARA


Dalam kehidupan berbangsa dan  bernegara, akan ada aspek pertahanan yang merupakan faktor hakiki dalam menjamin kelangsungan hidup suatu negara bangsa. Tanpa mampu mempertahankan diri terhadap ancaman dari luar negeri dan/atau dari dalam negeri, suatu negara tidak akan dapat mempertahankan keberadaannya. Pertahanan itu dibangun dalam sistem pertahanan negara.   Sedangkan, Sistem pertahanan negara itu sendiri adalah totalitas sistem kebangsaan dan kenegaraan yang melibatkan seluruh warga negara dan sumber daya nasional yang dimiliki. Totalitas sistem itu digerakkan oleh kekuatan dasar sumber daya manusia atau warga negara yang memiliki kesadaran akan hak dan kewajibannya dalam upaya pembelaan negara. Upaya pembelaan negara, selain sebagai kewajiban dasar manusia, juga merupakan kehormatan bagi setiap warga negara yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, dan rela berkorban dalam pengabdian kepada negara dan bangsa.
 
     Upaya mendasar untuk menumbuhkan kesadaran bela negara dilakukan pada ranah membangun jiwanya hingga berujung pada terbentuknya sikap dan perilaku yang mengejewantahkan kesadarannya dalam pembelaan negara. Melalui upaya itu diharapkan mewujudkan kualitas dinamika kehidupan bangsa dalam bentangan spektrum bela negara, dari hubungan baik sesama warga negara, profesionalitas setiap karya dalam  bidang pekerjaannya masing-masing sampai dengan bersama-sama mengangkat senjata menghadapi musuh nyata bersenjata.
 
   Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Jika kewajiban warga negara dalam bela negara lahir dari implikasi tuntutan partisipasi sebagai warga negara, hak warga negara dalam bela negara lahir sebagai kehormatan atas keagungan negara sebagai wadah bersama dan karena kecintaannya kepada negara yang memiliki wilayah dan berbagai aspeknya tempat warga negara hidup dan memelihara kehidupannya baik dalam aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan.
 
    Pengejewantahan kesadaran bela negara dalam dinamika kehidupan bangsa mengelola sumber daya nasional guna mencapai tujuan kesejahteraan adalah kekuatan pertahanan nonmiliter. Sedangkan kesadaran bela negara yang berujung pada dukungan segenap pikiran, dan daya upaya lainnya dari warga negara membangun pertahanan negara sampai dengan kesiapannya secara fisik untuk menjadi komponen pertahanan negara adalah wujud nyata kekuatan pertahanan militer.
 
      Pendidikan kesadaran bela negara sebagai bentuk upaya persiapan secara dini penyelenggaraan pertahanan negara oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah dan berlanjut, akan melahirkan bangun kekuatan yang berdimensi ganda. Dimensi pertama adalah masif dalam profesionalisme untuk menghadapi ancaman nonmiliter, sedangkan dimensi kedua adalah kesadarannya bahwa untuk kepentingan pertahanan negara sumber daya nasional siap secara psikis dibentuk menjadi komponen pertahanan dalam menghadapi ancaman militer.
 
       Kewajiban bela negara adalah bagian dari sistem sosial politik untuk menjaga eksistensi kelompok sosial politik yang terbesar yang disebut negara. Dalam sistem sosial budaya kelompok masyarakat yang lebih kecil, kewajiban dan nilai bela negara dapat dirunut, karena pada dasarnya nilai dan kewajiban itu adalah dasar terjaganya eksistensi kelompok. Dalam pengamatan sekilas nilai dan norma yang dikenal sebagai bela negara memang tidak nampak dengan jelas, namun jika diteliti secara lebih cermat, sebagai akibat naluri kelompok untuk menjaga eksistensi kelompoknya sesungguhnya dalam sistem sosial kelompok masyarakat kecil terdapat sistem nilai untuk tetap menjaga eksistensinya.
 
UNSUR BELA NEGARA
 
       Bela negara adalah keikutsertaan warga negara membela negara dalam usaha pertahanan negara. Upaya bela negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Upaya bela negara, selain sebagai kewajiban dasar manusia, juga merupakan kehormatan bagi setiap warga negara yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, dan rela berkorban dalam pengabdian kepada negara dan bangsa.
 
       Dengan demikian bela negara tidak semestinya dipahami sebagai “memanggul senjata” atau hal yang berbau “militer”, akan tetapi merupakan kekuatan dinamika kehidupan warga negara di semua aspek kehidupan sesuai dengan profesinya masing-masing. Spektrum bela negara sangat luas, dimulai dari hal yang paling lunak sampai dengan hal yang paling keras, mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai bersama-sama menangkal ancaman nyata musuh bersenjata.
 
       Membangun kesadaran bela negara, berarti membangun watak bangsa, yakni  membangun perilaku manusia Indonesia yang memiliki jati diri sebagai bangsa. Terbangunnya jati diri bangsa melahirkan ikatan maya yang dapat tertembus, tetapi tidak akan terputus, sebab ia berupa cara dan pola pikir manusia Indonesia yang memiliki kebanggaan dan kebangsaan Indonesia yang dilandasi cinta tanah air dan siap bela negara.
 
     Kecintaan kepada tanah air merupakan unsur pembuka bela negara, yang berujung pada kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia.  Dalam ranah kejiwaan yang dilakukan adalah menggugah rasa kebangsaan dan cinta tanah air, yang kemudian terejewantahkan pada perilaku rela berkorban. Dengan landasan sikap perilaku cinta tanah air dan rela berkorban ini lahirlah jiwa juang untuk berbuat dan berperilaku yang terbaik untuk negara dan bangsa, yang menunjukkan etos kebangsaan.
 
       Etos kebangsaan ini pada dasarnya adalah kemampuan awal bela negara. Isi etos kebangsaan adalah tampilan profesionalisme warga negara dalam bidang tugasnya. Kemampuan awal bela negara ini dirangkum dalam sistem pertahanan negara sebagai kekuatan dan kemampuan nirmiliter yang berisi unsur-unsur penggerak kesadaran bela negara yang mencakup 1) Cinta tanah air ; 2) Sadar berbangsa dan bernegara ; 3) Yakin terhadap kebenaran Pancasila sebagai falsafah dan ideologi negara ; 4) Rela berkorban bagi bangsa dan negara ; dan 5) Memiliki kemampuan awal bela negara.
 
      Dinamika unsur-unsur bela negara ini apabila dilakukan secara maksimal dan bertanggung jawab sesuai bidang profesi oleh setiap warga negara maka akan menjadi suatu penggerak kekuatan nonmiliter, sedangkan tampilannya yang telah mengkristal menjadi kekuatan fisik komponen pertahanan negara  akan menjadi unsur penguat pengganda dalam kekuatan militer sistem pertahanan negara.


dihimpun dari berbagai sumber

22.8.22

PENGUASAAN WILAYAH : TINJAUAN TEORI MANAJEMEN

 

Masalah fundamental yang harus dibenahi oleh pengambil keputusan nasional ataupun stake holder dalam mengantisipasi berbagai persoalan yang muncul dalam konflik perbatasan termasuk dispute di suatu wilayah (blok Ambalat, contohnya) saat ini justru karena tidak adanya manajemen strategik yang komprehensif dalam rangka mewujudkan penguasaan dan pengendalian secara fisik (effective occupation) di wilayah tersebut. Padahal berdasarkan pengalaman sejarah lepas salah satu wilayah Indonesia (exp:Sipadan dan Ligitan), penguasaan dan pengendalian secara fisik bisa dijadikan sebagai yurisprudensi sehingga penting untuk diwujudkan  sebagai langkah antisipatif apabila penyelesaian secara diplomasi di tingkat bilateral gagal mencapai kesepakatan. Tanpa pembenahan masalah fundamental ini maka diplomasi yang sedang dilaksanakan dan digelar selama ini tidak akan optimal.  Dengan demikian maka peran manajemen yang komprehensif diperlukan untuk menyelesaikan beberapa persoalan wilayah.

 

Tinjauan Teori Manajemen Strategik.  Teori ini lebih menonjolkan pada pembuatan (formulating), penerapan (implementing) dan evaluasi (evaluating) keputusan-keputusan strategik antar fungsi-fungsi yang memungkinkan sebuah organisasi mencapai tujuan-tujuan masa datang.  Dalam manajemen strategik dimana cara berpikir strategik akan semakin banyak memerlukan masukan-masukan untuk dapat menetapkan, mengimplementasikan dan  mengontrol strategi apa yang akan digunakan dan yang paling handal. Aplikasi tinjauan teori manajemen strategik tersebut dalam penguasaan dan pengendalian secara fisik di wilayah (konflik) adalah bagaimana stake holder dapat mensinergikan seluruh komponen kekuatan nasional ke dalam suatu sistem pengamanan wilayah perbatasan secara efektif. 

 

Karena itu pendekatan dan respon pemerintah (stake holder) khususnya dalam menyusun manajemen pengamanan wilayah perbatasan seharusnya sudah terstruktur dengan baik bahkan seharusnya juga sudah diatur oleh peraturan perundang-undangan dengan melibatkan berbagai instansi dan Kementerian yang berkompeten. Pendekatan yang ditempuh sebaiknya bukan pendekatan ad-hoc yang selama ini dilakukan hanya oleh aparat TNI secara sektoral.

 

Dengan manajemen yang baik maka diharapkan antar satu instansi dengan instansi lain menggunakan pendekatan dan respon yang sama, sehingga mencerminkan integritas seluruh komponen kekuatan nasional dalam suatu manajemen yang strategik. Berdasarkan hal tersebut diatas, bagaimana mengaplikasikan strategi tersebut dan mengontrolnya sehingga tujuan dan sasaran akan tercapai, adalah dengan penerapan :

 

 

Proses Manajemen Strategik dalam Penguasaan dan Pengendalian, yaitu bagaimana para pemegang kebijakan dan stake holder lainnya bisa melaksanakan Pembuatan Strategi, meliputi pengembangan misi dan tujuan jangka panjang, pengidentifikasian peluang dan ancaman dari luar  serta kekuatan dan kelemahan, pengembangan alternatif-alternatif strategi dan penentuan strategi yang sesuai untuk diadopsi. Tinjauan teori ini contohnya pada penguasaan dan pengendalian di wilayah dispute Blok Ambalat, diformulasikan berdasarkan prinsip kesisteman dan diterapkan sesuai dengan kompetensi dari berbagai instansi sebagai sub-sistem, serta di evaluasi guna mendapatkan strategi yang tepat untuk di kembangkan.

 

Disamping pembuatan strategi, maka tidak kalah pentingnya adalah bagaimana melaksanakan Penetapan Strategi, sesuai dengan kondisi wilayah (konflik), maka wewenang dan tanggung jawab dalam mewujudkan  penguasaan dan pengendalian secara fisik perlu dibagi ke dalam berbagai fungsi Kementerian maupun lembaga non Kementerian beserta jajarannya. Sementara itu, berbagai komponen kekuatan nasional yang akan dilibatkan memerlukan keserasian dan keselarasan dalam pendayagunaannya. Dalam rangka mewujudkan legalitas di suatu wilayah konflik, maka ditetapkan sasaran-sasaran operasional serta pengalokasian sumber-sumber daya yang ada agar strategi yang telah ditetapkan dapat diimplementasikan.

 

Terakhir seperti layaknya langkah-langkah perencanaan dengan kesisteman, maka sangat diperlukan adanya Evaluasi/kontrol strategi, mencakup upaya-upaya untuk memonitor seluruh hasil-hasil dari pembuatan dan penerapan strategi dalam penguasaan dan pengendalian di wilayah konflik, agar dapat  mengukur serta mengambil langkah-langkah perbaikan jika diperlukan. Manajemen strategik, yang berorientasi jangka panjang memerlukan metode berpikir strategik yang selalu mengarah kedepan.   Pemikiran ke depan ini akan terjelma dalam visi dan misi melalui analisa teori tertentu terhadap lingkungan strategik untuk menentukan tujuan dan sasaran. Dalam upaya mencari strategi yang tepat guna serta efektif dan efisien maka diperlukan proses untuk memformulasikan strategi mana yang tepat untuk menentukan mencapai tujuan. Dalam pengaplikasiannya di wilayah konflik  diperlukan manajemen dan strategi yang komprehensif yang dilengkapi sarana kontrol agar tujuan dan sasaran tetap tercapai secara efektif dan efisien.  Peran manajemen dan Strategi yang komprehensif tersebut diperlukan untuk menyelesaikan beberapa persoalan yang ada.


15.8.22

IMPLEMENTASI STRATEGIC LEADERSHIP JENDERAL EISENHOWER PADA OPERASI “OVERLORD” SAAT PERANG DUNIA KE II


Pendaratan di Normandy, Perancis merupakan sebuah operasi militer yang bersandi “Operation Neptune”, merupakan operasi pendaratan militer Pasukan Sekutu pada Invansi Normandy dalam Operation Overlord, yang terjadi ketika Perang Dunia II berlangsung.  Keberhasilan pendaratan pasukan sekutu di Normandy, Perancis tidak terlepas dari kepemimpinan Jenderal Dwight D. Eisenhower, Supreme Commander pasukan Sekutu.

 

Dwight D. Eisenhower dalam karirnya sebagai seorang militer dan negarawan telah menunjukkan performance sebagai seorang strategic leader. Di Kemiliteran, karirnya mengesankan, ditunjukkan dengan kemahirannya baik sebagai seorang komandan maupun staf.  Sebagai anggota staf, Eisenhower menjalankan tugas dibawah tiga Jenderal, antara lain salah satunya Jenderal Douglas McArthur.  Setelah Jepang menyerang Teluk Mutiara di Hawaii pada Desember 1940, Kepala Staf Amerika Jendral George C. Marshall, mengangkat Dwight D. Eisenhower menjadi Kepala Bagian Perencanaan Perang Staf Umum Departemen Perang Amerika, dan kemudian menjadi Pembantu Kepala Staf.  Tak lama sesudah itu Eisenhower naik pangkat menjadi Mayor Jenderal.  Pada November 1942 sebagai Letnan Jenderal, Dwight D. Eisenhower memimpin pendaratan tentara sekutu di Afrika Utara. Berdasarkan berbagai keberhasilannya dalam memimpin pasukan Sekutu tersebut, maka pada 1944 Dwight D. Eisenhower diangkat menjadi Panglima Tertinggi Pasukan Sekutu dalam Operasi Overlord. Dari berbagai keberhasilannya memimpin, akhirnya mengantarkan Dwight D. Eisenhower menjadi Presiden Amerika ke-34 pada periode 1953–1961.

 

Sebagai Supreme Commander, Kepemimpinan Strategis Dwight D. Eisenhower dalam Operasi Overlord terlihat sangat menonjol.  Untuk menunjang keberhasilan operasi yang melibatkan ribuan prajurit tersebut, Dwight D. Eisenhower menerapkan operasi pengelabuan dengan sandi Operasi Fortitude.  Operasi pengelabuan ini bertujuan membuat bingung intelijen Jerman dengan membanjiri mereka dengan banyaknya informasi yang sebagian besar menyesatkan untuk mengalihkan perhatian pasukan Jerman dari wilayah Normandy tempat pendaratan sebenarnya yang direncanakan oleh pihak tentara Sekutu dan menyebarkan kekuatan pasukan Jerman ke beberapa negara Eropa.  Untuk mengantisipasi pergerakan dinas intelijen Jerman sekaligus mendukung Operasi Overlord, pasukan Sekutu membentuk sebuah kelompok unik, The Allied Deception Staff dengan nama samaran The London Controlling Section (LCS) yang dipimpin Kolonel John Bevan. Tujuan dari organisasi ini adalah untuk mengelabui dan membingungkan The German High Command dan Adolf Hitler sendiri, untuk mendukung pergerakan pasukan Sekutu menjelang D-Day. Dengan mengetahui sistem intelijen Jerman, LSC memberi dinas intelijen Jerman banyak sekali data atau informasi yang sebagian besar merupakan tipuan, rekayasa dan menyesatkan.

 

Dwight D. Eisenhower juga menunjukkan kualitas seorang pemimpin yang bertanggung jawab.  James A.F Stonen menulis bahwa salah satu tugas utama seorang pemimpin adalah bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan (akuntabilitas).  Hal ini terlihat dari surat yang diberi nama “In Case of Failure" atau kurang lebih berarti "Jika Terjadi Kegagalan", Eisenhower mengatakan dia akan menanggung semua "dosa" jika pasukan yang dikirimnya gagal mengalahkan Nazi.  Mengirim ribuan prajurit ke medan tempur yang sebagian dari mereka tak akan pernah kembali, bagaimanapun membuat resah hati seorang perwira militer sekaliber Jenderal Dwight D. Eisenhower. Surat itu ditulis Eisenhower sehari sebelum penyerbuan dilaksanakan, Ia menulis sebuah surat yang isinya adalah rencana menarik kembali seluruh pasukan jika pendaratan di Normandy gagal.

 

Kualitas kepemimpinan strategis Dwight D. Eisenhower yang lain dapat dilihat dari pembawaan, pengetahuan dan tindakannya selama memimpin Operasi Overlord. Berdasarkan teori Kompetensi Kepemimpinan Strategis (Strategic Leadership Competencies), ciri dari seorang pemimpin strategis adalah adanya keunggulan pada pembawaan, pengetahuan dan tindakan seorang pemimpin.

 

Dari aspek Pembawaan. Dwight D. Eseinhower memiliki nilai-nilai keunggulan, menguasai seni strategis, memiliki pengetahuan yang dalam tentang sejarah, nyaman dengan kompleksitas, stamina fisik yang tinggi baik secara fisik, mental dan pengelolaan stress, keterampilan diplomat, serta memiliki keunggulan intelektual yang ditunjukkan dalam kepemimpinannya. Memimpin ribuan prajurit dari berbagai negara dengan berbagai latar belakang, karakter, sejarah dan tradisi satuan serta persenjataan dan doktrin yang berbeda membutuhkan suatu pembawaan pemimpin yang mampu mengayomi dan mengarahkan segala perbedaan menuju satu keunggulan tersendiri.

 

Dari aspek Pengetahuan.  Dwight D. Eseinhower memiliki pengetahuan yang bersifat secara konseptual. Eisenhower memiliki kemampuan dalam meramalkan masa depan dan mengantisipasinya, menguasai kerangka acuan pengembangan, menguasai pengelolaan masalah, kritis dalam mengevaluasi diri, kritis dalam merefleksikan cara berpikir, efektif dalam lingkungan yang kompleks, serta terampil dalam memformulasikan Ends, Ways, Means.  Pemilihan tempat pendaratan di pantai Normandy yang merupakan pantai dengan dinding yang terjal, penyusunan formasi tempur, penggunaan kekuatan penuh, manuver yang bertahap dan pilihan kecepatan untuk memperoleh manfaat merupakan bentuk penguasan pengetahuan yang mumpuni bagi seorang pemimpin strategis.

 

Hubungan Antar Personal. Dalam pengetahuan hubungan antar personal, Eisenhower dapat membuka diri dan memiliki daya adaptasi yang sangat besar dengan senantiasa menjalin hubungan komunikasi dengan seluruh prajurit, keluarga, rakyat bahkan dengan pihak penjajah sekalipun. Humanisme yang ditunjukkan oleh Eisenhower dengan mau melihat dan menginspeksi sendiri latihan-latihan yang dilakukan prajurit Sekutu, ternyata mampu membentuk dan membangkitkan semangat juang seluruh prajurit untuk bertempur.

 

Dari aspek Tindakan. Dwight D. Eisenhower sebagai pemimpin tertinggi pasukan Sekutu, memperlihatkan kualitasnya sebagai Panglima yang mumpuni memimpin ribuan prajurit dan para Jenderal dari berbagai negara dengan kendala dan peluang yang ada. Mampu menciptakan Kodal dan Manajemen SDM yang unggul, sehingga Operasi Overlord mampu merebut kembali Perancis, dan Dwight D. Eisenhower mendapat penghargaan dari rakyat Perancis sebagai Pahlawan Pembebas Eropa. Dwight D. Eisenhower mampu mengelola hubungan-hubungan yang bersifat gabungan dan antar lembaga.  Memimpin dan mengelola perubahan, membangun tim dan konsensus pada level strategis serta mampu mempraktekkan seni strategis dengan alokasi sumberdaya, membuat dan melaksanakan perencanaan strategis yang dihasilkan dari proses kerjasama antar lembaga, dalam hal ini adalah angkatan bersenjata negara-negara Sekutu yang terlibat dalam Operasi Overlord.

  

Pelajaran yang dapat diambil dari Kepemimpinan Strategis Dwight D. Eisenhower bahwa Dwight D. Eseinhower melihat inadequancy perencanaan saat mengalami perang, tetapi Eisenhower tidak pernah meremehkan pentingnya perencanaan sebelum peristiwa aktual. Sun Tzu mengatakan ; ketahuilah dirimu, ketahui musuhmu, seribu kali berperang, seribu kali juga kemenangan didapat, serta perencanaan yang baik merupakan lima puluh persen dari kemenangan.  Hal ini disadari betul oleh Dwight D. Eisenhower dengan merencanakan Operasi Overlord secara teliti dan baik sekali untuk mendapatkan kemenangan dan keberhasilan yang diinginkan. Hal lain yang perlu disimak dari Dwight D. Eisenhower adalah, bahwa ia mampu memenangkan rasa hormat dari bawahannya dan sekutunya karena sifat diplomatik kepemimpinannya. Eisenhower memimpin dengan persuasi bukan dengan menggunakan posisinya untuk memaksa orang untuk melakukan hal-hal karena takut. Pelajaran inilah yang dapat dan perlu kita petik, sebagai pemimpin sangatlah mudah menggunakan kekuasaan, tetapi yang lebih baik lagi adalah bagaimana kita bisa mengelola kekuasaan tersebut untuk memberdayakan tim yang ada tanpa harus ada unsur paksaan agar bawahan secara sukarela mau berbuat dan bertindak demi tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi.